RUNNING NEWS :
Loading...

BESARNYA PAJAK RETRIBUSI BISA DIPERMAINKAN

Baca Juga

Salah satu truk muat batu saat di jalan. (ist)

Jeritan Pengusaha Galian C di Mojokerto (Bagian 2)


Mojokerto, Pojok Kiri

               Disetiap lokasi usaha galian C berijin yang ada di wilayah Kab Mojokerto, dipastikan setiap hari diawasi aktivitasnya oleh Karyawan dari Bapenda (Badan Pendapatan Daerah) setempat. Mereka memang ditugasi untuk menghitung jumlah truk yang keluar dari lokasi galian. Di akhir bulan, hasil hitungan itu dipergunakan sebagai dasar Pemkab menentukan jumlah total tagihan Pajak Retribusi yang harus dibayar pengelola Usaha Galian C.
              Tentunya, tiap lokasi bisa jadi besar pajak retribusinya tidak sama. Tergantung potensi lahan galian atau banyaknya truk yang keluar dari lokasi setiap hari. " Kalau ditempat saya, tiap hari bisa mencapai 30 truk, " ungkap Khoirul Anwar, alias Jaule Pengusaha Galian C, resmi di Jatirejo, kepada Pojok Kiri, kemarin. Dari hitungan harian bisa diperkirakan berapa ratus truk pengangkut batu yang tercatat keluar dari lokasi galian per bulannya.
            " Sampean bisa hitung sendiri, jika sehari 30 truk/rit kalau dikalikan bisa sebanyak 1.200 truk/rit se bulan, setelah itu tinggal mengalikannya dengan pajak retribusi Rp. 75 ribu/rit, berarti sebulan satu pengusaha di satu galian yang resmi, diwajibkan membayar pajak restribusi mencapai Rp. 90.000.000, " urai Jaule, seraya mengaku dirinya lebih sering membayar pajak retribusi ini mingguan dari pada bulanan. Apakah besarnya total tagihan pajak retribusi tiap bulan ini sudah merupakan harga mati bagi para Pengusaha Galian C ? " Ooo, nanti dulu, kenyataannya di lapangan masih bisa dipermainkan, " kata Jaule.
             Peluang mempermainkan total besarnya pajak retribusi ini, yang diduga dilakukan 'chek ker' (petugas penghitung keluarnya truk dari lokasi galian) dengan modus memanipulasi data keluar truk, menjadi sangat menarik untuk diketahui. Mengingat. potensi usaha satu ini sangat besar di Kab Mojokerto. Jika hampir semua lokasi usaha Galian C, pajak retribusinya bisa dimainkan, sudah berapa ratus juta pajak yang 'menguap' ? Hal itu mudah terjadi, lanjut Jaule karena karyawan Bapenda yang ditugasi di setiap lokasi Galian adalah satu-satunya penentu besarnya tagihan pajak retribusi yang harus dibayar setiap Pengusaha Galian C.
            Lalu modusnya bagaimana ? Jaule blak-blakan menceritakan jika sebelum jumlah hitungan keluarnya truk atau per rit itu dikirim ke Bapenda, untuk kemudian diterbitkan jumlah tagihan pajak retribusinya, seringkali oknum karyawan Bapenda itu mengajak 86 (berunding) dulu dengan Pengusahanya. " Oknum itu mesti menawari, dibikin berapa ? Andai sebulan 1200 rit, bisa dirubah jadi separuh oleh mereka, tapi ya itu, oknum itu akan minta bagiannya yang separuh, setelah dibagi dengan Pengusahanya tadi, " jelas Jaule.
            Modus mempermainkan besarnya pajak retribusi di tiap lokasi galian C ini bukan mengada-ngada. Jaule mengaku pernah ditawari, namun ia terus terang menolaknya. Praktis, setelah jumlah rit dikurangi, tentunya pajak retribusi yang dibayar ke Bapenda menjadi tidak sesuai dengan pontensi keluarnya truk pengangkut hasil usaha galian C tiap bulannya.
             Itulah sebabnya kenapa Jaule begitu keras mempersoalkan besarnya pajak retribusi usaha ini. " Karena percuma saja jika pajak besar tapi masih bocor di lapangan, untuk apa ? " tanyanya. Selain itu, juga untuk apa, dengan pajak mahal namun tidak membuat survive (hidup) lebih lama para Pengusahanya. " Jadi menurut saya potensi usaha galian C itu harus dijaga keberadaannya dengan selalu mengajak kami bicara jika hendak menaikkan pajak retribusinya, jika tidak, akan banyak usaha galian C yang bangkrut, " ulas Jaule.
             Sekedar diketahui saja, Pemkab Mojokerto memang hampir tiap tahun berusaha meningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor Galian C. Caranya, dengan memperbanyak dibukanya lokasi galian yang tentu saja yang resmi atau berijin. Sebab jika dibiarkan illegal, mereka tidak bisa ditagih pajaknya. Lalu, apakah masih ada usaha galian C yang tak berijin tapi aman beroperasi selama ini ?
             " Waduh mas, ya masih banyaklah, harusnya Pemkab itu terus menertibkan mereka ini, karena justru dengan membiarkan usaha galian C illegal beroperasi sama saja tidak mendukung peningkatan PAD dari sektor ini, " kata Jaule. Selama ini, usaha galian C illegal terkesan sengaja dibiarkan. Namun fakta ini, tidak seluruhnya bisa disalahkan, mengingat untuk bisa beroperasi tanpa ijin, pengusaha Galian C illegal mesti perlu 'backing kuat'. Wajar jika saja pihak Satpol PP menjadi enggan bahkan 'takut' menutup usaha galian C seperti ini.
             Bahkan, justru keberadaannya sangat menguntungkan bagi oknum berwenang, karena bisa dimanfaatkan sebagai ATM (pemasukan) rutin mereka tiap bulannya. Meski hampir setiap bulan bahkan setiap hari diganggu, toh keberadaan usaha galian C illegal ini, masih bisa bertahan. Kok bisa seperti itu ? Dan bagaimana caranya mereka bisa 'aman' dari penertiban Satpol PP ? Ikuti sambungan lapsus ini di Pojok Kiri edisi besok pagi. (brd/bersambung)

PASURUAN

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas