RUNNING NEWS :
Loading...

Harga Mati!!! Warga Kukusan Tolak Penambangan di Kaki Gunung Ringgit

Baca Juga

Caption; Warga menunjukkan lokasi yang akan ditambang. (asr)



Situbondo, Pojok Kiri- Rencana penambangan di kawasan Desa Kukusan Kecamatan Kendit, Situbondo, Jawa Timur Situbondo, makin kuat mendapat penolakan dari warga setempat. Bahkan  seluruh warga hampir 3.000 jiwa di desa ini, menyatakan sikap, harga mati tolak tambang.



Apalagi, penolakan warga itu didukung penuh Kepala Desa (Kades) setempat, Yupriyadi (46). Yupriadi mengaku tidak ingin mengorbankan warganya, hanya karena alasan untuk kebutuhan material untuk pembangunan jalan tol Probolinggo – Banyuwangi (Probowangi).



"Saya sebagai Kepala Desa,  menolak adanya penambangan di Desa kami. Apalagi saya jadi Kades, karena dukungan warga, tidak mungkin saya mengkhianati warga sendiri. Selain itu, selama ini saya tidak pernah diajak koordinasi atau ada pemberitahuan dari para penambang tersebut,” ujar Kades Yupriyadi, saat ditemui di kantornya, kemarin (09/11).



Salah satu tokoh masyarakat, H Muhammad Ramli mengaku dirinya akan terus bersama warga, untuk menolak pertambangan di tempat itu. Selain, dampaknya sangat merugikan warga, banyak fasilitas umum yang rusak, serta air menjadi kering. Jika kawasan bukit di Kukusan itu ditambang, akan mengancam jiwa warga di bawah bukit.



“Dampaknya ini luar biasa mas, sangat merugikan warga sekitar. Karena dulu tahun 2013 pernah ditambang, akhirnya air kering dan banyak jalan juga jembatan rusak,” tegasnya.



Karenanya, dirinya akan bersikukuh menolak penambangan di kawasan Desa Kukusan. Meski dirinya mengaku seringkali disogok orang-orang pelaku usaha tambang dengan jumlah ratusan juta, namun tetap akan mempertahankan hak-hak keselamatan warga.



"Setelah saya mengetahui adanya pertambangan di Desa Kukusan ini, dimana status tanah itu tidak jelas dan Kades tidak mengetahui tentang proses jual beli. Karena proses jual beli dilakukan di luar desa. Bahkan saya didatangi beberapa orang, menyuap saya, dengan uang dan mobil agar menyetujui penambanngan di Desa Kukusan.
Saya menolak, lebih baik mati daripada warga Kukusan menjadi korban akibat tambang,” cap Ramli, panggilan akrabnya.



Sementara, Sunarto (47), salah satu warga yang terlanjut menjual lahannya kepada pihak penambang mengaku, dirinya telah dibohongi. Sebab awalnya, orang suruhan penambang bilang mau membeli lahan itu, seharga Rp22 juta per hektar, untuk ditanami kopi dan pohon sengon. Karena sudah terjual, dirinya tak mempermasalahkan.



Namun, dirinya tidak mau jika ada penambangan di kawasan tersebut. Apalagi, lokasi penambangan itu tepat di kaki lereng Gunung Ringgit atau Gunung Putri Tidur. Jika itu dibiarkan, maka tebing bukit dipastikan longsor dan mengancam jiwa penduduk sekitar.



"Saya dan warga disini menolak, jika lahan yang sudah terjual itu ditambang. Sebab lokasinya tepat di kaki gunung ringgit. Disana satu-satunya sumber air untuk kebutuhan warga disini,” ketusnya. (asr/ lah)

PASURUAN

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas