RUNNING NEWS :
Loading...

Tanpa Bantuan Pemerintah, Nenek Saturi Mampu Bertahan Hidup Dengan Berjualan Sayur

Baca Juga

Nenek Sutari, warga Desa Padasan Kecamatan Pujer, Bondowoso. (fur)

Potret Kemiskinan di Bondowoso

Bondowoso, Pojok Kiri-
Nenek Saturi (75), warga Desa Padasan Kecamatan Pujer, Bondowoso Jawa Timur, tiap hari berjualan sayur genjer di Pasar Tenggarang. Bahkan Nenek Saturi selalu berjalan kaki, dari rumahnya menuju Pasar kira-kira sejauh 14 kilometer, pulang pergi.



Jarak tempuh jika normal tanpa istirahat, Nenek Saturi menempuh perjalanan sekitar 4 jam. Artinya, Nenek Saturi harus berangkat paling lambat pukul 00.30 Wib tengah malam setiap hari, hingga tiba di tujuan kisaran pukul 04.30 Wib. Dagangan sayur genjer itu biasa diusung di kepalanya.



“Yang penting tidak minta-minta, kedua jangan sampai tinggalkan sholat,” begitulah pesan mulia Nenek Saturi, yang rumahnya tepat di belakang Kepala Desa Padasan.



Dari hasil jualan genjer itu, Nenek Saturi mendapatkan penghasilan sebesar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, itupun jika terjual semua. Usai berjualan, sekitar pukul 06.00 Wib pulang, hingga pukul 09.00 Wib baru sampai rumahnya.



Hasil jualan juga digunakan belanja kebutuhan makan sehari-hari. Tak jarang pula, ada pedagang yang memberinya tambahan penghasilan, dengan cara menitipkan dagangan berupa pisang dan lainnya, untuk dijual.



Tampak sekali kehidupan Nenek Saturi yang memprihatinkan ini, dirinya tak pernah mengeluh bahkan cukup tegar.



Usai memasak dan makan, Nenek Saturi juga tak lupa beristirahat sambil menghibur cucunya di rumah. Siang hingga sore, Nenek Saturi kembali harus mencari genjer di sawah, untuk dijual besok. Bahkan kalo tidak sempat, ia membeli dari orang lain. Dan begitu seterusnya.



Nenek Saturi ini menekuni berjualan Genjer di Pasar Tenggarang, sudah 10 tahun lebih. Sejak ditinggal mati suaminya, dan kini tinggal bersama anak perempuan dan cucunya, namun rumah yang terpisah di sampingnya. Sedangkan suami putrinya itu, juga berjualan sayur keliling.



Meski usianya sudah tua, namun badannya tampak sehat dan kuat. Rumah Nenek Saturi ini, hanya sebuah gubuk kecil berukuran 4 x 4 meter dan sudah reot. Namun bagian depan sudah ditembok, sedangkan kamar yang kumpul dengan dapur tertutup gedek bambu.



Bahkan, beberapa hari lalu dapurnya hampir roboh. Sehingga ia harus pinjam uang ke tetangga untuk memperbaiknya. Sehingga saat ini, sebagian penghasilannya itu harus disisihkan untuk membayar hutang.



Namun sayangnya, kehidupan Nenek Saturi yang memprihatinkan ini tak pernah mendapat perhatian dari Pemerintah, baik dari Pusat, Kabupaten maupun Desa. “Tidak pernah ada bantuan nak. Padahal rumah saya pas berada di belakang rumah Kepala desa,” ujarnya penuh ketegaran. (fur/ lah)

PASURUAN

 
PT POJOK KIRI MEDIA
© 2007 - 2018 Pojokkiri.co
All right reserved
Alamat Redaksi :
Jl Gayungsari Timur No.35
Surabaya,Jawa Timur
Pedoman
Redaksi
Peta situs
Terms & Conditions
Atas